Awareness to 5 C’S & 4 P’S = “Credit Culture” yang SEHAT


Salam Hangat Micro Bankers…..

Artikel berikut ini hanyalah sebuah media penyegaran kembali untuk mengingatkan micro banker’s betapa kesadaran untuk mengaplikasikan konsep 5 C’S dan 4 P’S dalam sebuah proses kredit sangat berpengaruh signifikan atas keberhasilan kredit yang disalurkan. Keberhasilan dimaksud sudah tentu berupa pertumbuhan kredit yang sehat yang kemudian berujung kepada profit.

Dalam praktiknya, sangat lazim bagi Account Officer dan Credit Analyst untuk sedikit “amnesia” untuk melaksanakan konsep 5 C’s dan 4 P’s dalam menjalankan proses inisiasi kredit dengan alasan kejar target, untuk menurunkan persentase nilai Non Performing Loan portofolio kredit, kejar insentif, dan lain sebagainya sesuai kepentingan pelakunya masing-masing. Bahkan beberapa teman micro banker’s yang mengatakan bahwa “ yang penting kan orangnya bisa dipercaya…!”…. Tampaknya kita perlu memberikan “?” terhadap statement tersebut….

Baik… Selayaknya diperlukan pembahasan terlebih dahulu mengenai “kredit” itu sendiri untuk menyegarkan kembali pemahaman kita tentang istilah tersebut.

Kredit sesungguhnya berasal dari bahasa latin credere” yang berarti kepercayaan, atau credo” yang berarti saya percaya. Jadi seandainya seseorang memperoleh kredit, berarti ia memperoleh kepercayaan (trust). Oleh karena itu, dasar dari kredit  ialah  kepercayaan.  Seseorang  atau  suatu  badan  yang  memberikan  kredit (kreditur) percaya bahwa penerima kredit (debitur) di masa mendatang akan sanggup memenuhi segala sesuatu yang telah dijanjikan.

Kemudian…..

Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan, atau yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara Bank dengan pihak lain, yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan sejumlah imbalan berupa bunga atau pembagian keuntungan. (Undang-undang Perbankan No.10 tahun 1998)

Kemudian sehubungan dengan kegiatan operasional lembaga perbankan (dan dapat diadaptasi dengan baik untuk lembaga keuangan lainnya)…….

Undang-Undang Perbankan No 10 Tahun 1998 menyebutkan bahwa :

“Perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank, mencakup kelembagaan,  kegiatan  usaha, serta  cara  dan  proses  dalam  melaksanakan kegiatan usahanya“

Sedangkan kegiatan menghimpun dana tercantum dalam Pasal 1 angka 2 berbunyi sebagai berikut:

Bank  adalah  Badan  usaha  yang  menghimpun  dana  dari  masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak,    Perbankan Indonesia dalam melaksanakan usahanya berdasarkan demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian.

Prinsip kehati-hatian itu dalam praktek perbankan diterjemahkan kedalam dua pengertian:

  1. Prinsip kehati-hatian terkait dengan masalah performen Debitur oleh karena itu  sebelum  kredit  diberikan  Bank  harus  terlebih  dahulu  memeriksa  dan menyelidiki kwalitas calon Debiturnya. Hanya calon Debitur yang memenuhi kriteria dan kwalifikasi tertentu sajalah yang permohonan kreditnya dapat dikabulkan.
  2. Prinsip  kehati-hatian  terkait  dengan  masalah  jaminan  untuk  membayar hutang-hutangnya, manakala Debiturnya default atau colaps.

Dalam  Undang-Undang  Nomor  10  Tahun 1998  pasal 8 ayat (1) mengatakan: dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah, Bank Umum wajib  mempunyai keyakinan berdasarkan analisis  yang mendalam atas itikad dan kemampuan  serta kesanggupan Nasabah Debitur untuk  melunasi utang-utangnya  atau mengembalikan pembiayaan  dimaksud sesuai dengan yang diperjanjikan.

Besarnya perhatian Undang-Undang perbankan  terhadap masalah jaminan  /
agunan disebabkan oleh pentingnya  peranan jaminan  sebagai pintu terakhir
dalam upaya bank  untuk melancarkan dan mengamankan kredit yang  telah
dikeluarkan. Vitalnya arti jaminan bagi Bank mengharuskan Bank meneliti secara seksama kwalitas barang jaminan Debitur. Tanpa jaminan yang berkwalitas dari debitur Bank akan sulit menagih pinjamannya kalau Debiturnya ingkar janji.

Prinsip  kehati-hatian  Bank  dalam  menyalurkan  kredit  kepada  calon Debitur nampak jelas dalam proses pemberian kredit.

Tahap-tahap yang harus ditempuh oleh calon Debitur adalah:

1.    Tahap pengajuan permohonan dan persiapan kredit.

2.    Tahap penilaian dan pemeriksaan.

3.    Tahap analisis kredit.

4.    Tahap keputusan kredit

5.    Tahap pelaksanaan dan administrasi kredit

6.    Tahap pengawasan

Dengan demikian, “Kredit” adalah sebuah “kepercayaan” dari penyedia dana/penghimpun dana (kreditur) yang diberikan kepada perorangan/lembaga usaha yang memerlukan dana (debitur) berdasarkan “keyakinan” kreditur kepada debitur bahwa debitur mampu mengelola dana yang diberikan untuk suatu kegiatan yang di usahakan debitur dengan ekspektasi yang telah diperhitungkan bahwa Debitur memperoleh hasil dari kegiatan usahanya untuk kemudian memberikan prestasi kepada kreditur berupa pengembalian pokok dan imbalan yang telah diperjanjikan dimuka.

Lalu bagaimanakah Kreditur mengukur “keyakinannya” kepada Debitur? Disinilah peranan konsep 5 C’s dan 4 P’s…. Disinilah apa yang dimaksudkan oleh ke-2 konsep tersebut menjadi bermakna dan bermanfaat…

Kemudian apa yang dimaksud dengan 5 C’s dan 4 P’s ?

Penilaian Bank sebelum mengucurkan kreditnya kepada calon Debitur
akan  berdasarkan  pada  faktor-faktor  watak  (Character),  jaminan (Collateral) , modal  (capital),  kemampuan  (capacity)  dan  kondisi  ekonomi  (  condition  of economy ) atau yang biasa disebut the 5 C’s (Five C’s of credit analysis).

The 5 C’s (five C’s of credit analysis) dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Character (watak) , Penilaian terhadap karakter perlu dilakukan untuk mengetahui itikad baik dan kejujuran Nasabah Debitur untuk membayar kembali kredit yang diterimanya.
  2. Capacity adalah kemampuan calon Debitur untuk mengendalikan, mengatur dan menguasai bidang usahanya, sehingga dengan demikian diharapkan calon dibitur dapat membayar sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.
  3. Capital (modal) perlu diketahui  jumlah  modal yang  dimiliki calon  Debitur cukup memadai untuk menjalankan usahanya. Kredit Bank berfungsi sebagai tambahan.
  4. Collateral  (jaminan) adalah barang-barang yang dapat digunakan sebagai jaminan. Barang-barang ini merupakan kekayaan yang dimiliki Debitur yang dapat digunakan sebagai jaminan guna pelunasan hutangnya. Fungsi agunan itu adalah apabila Debitur tidak dapat membayar kreditnya maka agunan ini dapat dijual oleh pihak Bank.
  5. Condition of Economy adalah situasi dan kondisi ekonomi pada saat kredit diberikan.

Secara teoritis, The five C’s of credit analysis ini merupakan pedoman yang baik bagi Bank untuk menghindari terjadinya kredit macet karena mengandung tiga unsur pokok yaitu:

  1. Faktor subyektif ( moral )
  2. Faktor obyektif yang berkenaan dengan organisasi, administrasi modal dan keadaan ekonomi.
  3. Faktor yuridis yang berkenaan dengan struktur yuridis dari badan usaha penerima kredit.

Pedoman lain   yang dapat juga digunakan adalah personality purpose payment dan prospek atau yang biasa disebut formula 4P. Formula 4 P dapat  dijabarkan secara ringkas sebagai berikut.

  1. Personality, adalah kepribadian dari calon Debitur. Pihak Bank harus
    mencari data tentang riwayat hidup dari Debitur misalnya pengalaman
    usahanya dan pergaulannya dalam masyarakat.
  2. Prospek, adalah masa depan dari usaha calon Debitur. Artinya Bank harus dengan cermat menilai apakah usaha yang akan diberikan kredit itu mempunyai masa depan yang cerah atau tidak baik ditinjau  dari  segi  keuangan  perusahaan  maupun  dari  segi  perkembangan perekonomian.
  3. Purpose,  adalah  maksud     atau  tujuan  peminjaman  kredit  oleh perusahaan dalam hal ini Bank harus dapat menilai apakah pinjaman
    kredit itu untuk pengembangan usaha atau konsumtif.
  4. Payment, adalah pembayaran dari Debitur artinya pihak Bank harus mengetahui  kemampuan  calon  Debiturnya  untuk  mengembalikan
    kreditnya baik dilihat dari jangka waktunya, maupun dari segi besarnya jumlah angsuran.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa Konsep 5 C’s digunakan untuk memberikan keyakinan kepada kreditur dalam bentuk gambaran kepada siapa kredit diberikan, bagaimana kemampuan calon debitur dalam mengelola usahanya baik secara finansial maupun operasional, dan dengan apa kredit dijamin terkait dengan aspek legalitas dan fakta yuridis agunan yang dijaminkan.

Sedang 4 P’s lebih kepada memberikan gambaran bagaimana Debitur mengelola dana kredit sesuai tujuan yang diharapkan, bagaimana dana kredit memberikan nilai tambah pada jalannya operasional perusahaan, dan bagaimana dana kredit dapat meningkatkan pendapatan/penghasilan Debitur sehingga mampu memberikan prestasi kepada Kreditur. Pada praktiknya, Konsep 4 P’s akan membantu Kreditur meminimalkan side streaming (penyalahgunaan dana yang tidak sesuai dengan tujuan kredit) yang dilakukan Debitur. Fakta menunjukkan bahwa dana kredit yang tidak digunakan sesuai tujuannya secara signifikan berpotensi menjadi kredit macet.

Namun demikian, betapapun konsep tersebut telah di aplikasikan pada sebuah proses kredit, tetap diperlukan  motivasi dan integritas dari para manajemen, pemilik Bank serta para karyawan, untuk bertindak dan berlaku dengan norma-norma yang telah menjadi satu kesatuan dalam budaya kerja. Dalam hal berkaitan dengan pemberian pinjaman atau kredit, maka perlu agar norma-norma tadi telah menjadi satu kesatuan dalam kata dan perbuatan, untuk  mengikuti aturan atau kebijakan yang telah ditentukan, dan perilaku inilah yang pada akhirnya bisa tercermin dalam  suatu budaya kredit. Bila suatu Bank telah mempunyai budaya kredit yang kuat, maka dapat diharapkan bahwa pengelolaan kredit pada Bank yang bersangkutan akan berjalan lancar, ditunjukkan dari nilai NPL (Non Performance Loan) yang rendah, serta para staf Bank yang berdedikasi.

Lalu Bagaimana Ciri-Ciri Budaya Kredit yang Sehat?

Suatu budaya kredit yang sehat berkembang, bila terdapat data dan informasi kredit secara profesional di semua tingkat pengelola.  Hal ini tumbuh secara alamiah dalam hati dan pikiran seluruh pengelola, bukan hanya dalam peraturan, memo, ataupun sistem, yang tercermin pada:

  • Seluruh jajaran pengelola kredit terlibat aktif dalam proses pengajuan paket kredit.  Setiap pejabat kredit memiliki tugas dan tanggung jawab atas kualitas kredit, yang ditetapkan secara berjenjang.
  • Kuatnya sense of ownership dari para pengelola kredit, yang menganggap tandatangan mereka (pada memo kredit) sebagai tanggung jawab pribadi.
  • Keputusan kredit dibuat seefektif dan secepat mungkin, sehingga  pimpinan puncak lebih fokus pada hal yang lebih strategis.
  • Pejabat pemutus Kredit dan Pemasaran (Bisnis) bekerjasama dengan baik, konstruktif dan saling memberikan nilai tambah untuk kepentingan Bank.  Mereka berani mengatakan ”tidak” atas pengajuan kredit yang tidak memenuhi syarat.
  • Jajaran pengelola kredit sangat memahami dan menguasai kebijakan kredit yang berlaku, dan proses pemberdayaan serta check and balances memungkinkan dilakukan.
  • Jajaran pengelola kredit mengetahui bahwa Bank adalah perusahaan yang berbisnis dengan cara mengelola risiko, sehingga wajar apabila terdapat risiko yang melekat pada bisnis.  Namun dihindari kegagalan dalam proses kredit.
  • SDM pada seluruh tingkatan bangga akan kemampuan dan ketrampilan kredit mereka serta  sadar akan pengaruhnya terhadap karir.
  • Promosi dan penghargaan akan diberikan kepada para pengelola kredit yang terbukti menciptakan kinerja yang baik.
  • Terdapat dialog yang konstruktif, komunikasi yang transparan atas keputusan kredit.
  • Para pemimpin memimpin dengan teladan: mempersiapkan anggaran, strategi, dan membina SDM, yang menyiratkan bahwa pelaksanaan standar kredit yang superior adalah prioritas tertinggi.
  • Kualitas kredit memiliki prioritas lebih tinggi daripada sekedar pertumbuhan pinjaman.

Bank dengan budaya kredit yang kuat tidak akan  agresif melakukan ekspansi, karena memahami manajemen risiko dengan cara  mitigasinya. Dalam setiap langkah, Bank akan menghitung berapa risiko yang bisa diterimanya, dan telah melakukan perencanaan pada segmen  atau sasaran, ke mana kebijakan pinjaman akan diarahkan.

Demikian artikel kali ini, semoga bermanfaat bagi Micro Banker’s terutama bagi Micro Banker’s pemula yang sedang berjuang meningkatkan portofolio kreditnya. J

Salam’

Dony Norbianto

About these ads

1 Comment

Filed under Kredit

One response to “Awareness to 5 C’S & 4 P’S = “Credit Culture” yang SEHAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s